![]() |
| Ilustrasi sejarah perkembangan peradaban Islam. Foto: Getty Images |
“๐๐จ๐ง๐๐ข๐ฌ๐ข ๐๐๐ง ๐๐จ๐ฅ๐ฎ๐ฌ๐ข”
Oleh : Muhammad Jundi Rabbani
๐ฝ๐๐จ๐ข๐๐ก๐ก๐๐.
Secara umum kami memahami, Prakata sebanyak kurang lebih 6 halaman yang disampaikan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya tersebut, memberikan gambaran tentang kondisi umat Islam pada abad ini, dan memberitahu apa yang harus dilakukan.
Salah satu faktor terbesar kemunduran umat Islam hari ini adalah "๐ท๐ฎ๐ต๐ถ๐น" terhadap agama sendiri. Umat Islam masih buta dengan agama ini, agama yang diturunkan dari langit, yang ajaran-ajarannya bersumber dari Wahyu Tuhan. Agama yang dalam perjalanan sejarah telah menyelamatkan manusia dari penyembahan terhadap manusia atau benda menuju penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan yang telah menyelamatkan manusia dari kejahilan.
Tidak hanya sebagai ajaran, namun Islam merupakan sebuah peradaban yang luhur, sebuah peradaban yang pernah menguasai 2/3 dunia. Islam pada masa keemasannya tidak sekedar menjadi agama yang dianut, yang hanya mengikat manusia dengan ritual ibadah, namun Islam juga dijadikan oleh orang-orang terdahulu sebagai "๐๐๐ ๐๐๐ฎ ๐ค๐ ๐๐๐๐", aturan atau tuntunan hidup. Namun ini tidak diketahui oleh sebagian besar Umat Islam saat ini.
Di sisi lain, umat Islam hari ini telah silau dengan peradaban baru yang muncul setelah jatuhnya Peradaban Islam, yaitu Peradaban Barat. Sebuah peradaban yang dilandasi oleh ideologi sekuler, yang memisahkan urusan dunia dari nilai-nilai agama.
Bagi Barat, kemajuan yang sesunguhnya adalah bila mampu menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan melakukan “Pembangunan” sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan norma atau nilai-nilai. Maka kita dapat melihat, betapa negara-negara Barat hari ini memiliki kemajuan yang pesat di bidang Ilmu Pengetahuan, teknologi, ekonomi, pembangunan, dan lain-lain.
Atas dasar ideologi sekuler ini, Barat terus membangun peradaban mereka dengan sistem-sistem yang jauh dari norma kemanusiaan dan nilai keagamaan, seperti membangun ekonomi dengan sistem kapitalisme, mengembangkan ilmu pengetahuan yang bercorak sekuler dengan pemikiran yang liberal, membangun negara dengan sistem demokrasi yang kapitalis, serta membangun masyarakat dengan sistem komunisme dan sosialisme.
Alhasil yang terjadi adalah lahirnya manusia-manusia yang materialistis, tidak mengenal agama, dan tidak ber-prikemanusiaan. Tapi sayangnya umat Islam telah terbelenggu dengan peradaban barat, sehingga kebanyakan masih kagum dengan peradaban yang sejatinya rusak ini.
Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Prakatanya menulis sebuah Syair
Melayu,
"๐๐ช๐จ๐ก๐๐ข ๐ฉ๐๐ง๐๐๐ฃ๐๐๐๐ข ๐๐๐ก๐๐ฃ๐๐๐ช ๐ ๐๐๐๐ง,
๐ผ๐ ๐๐๐ง๐๐ฉ ๐๐ช๐ฅ๐ช๐ฉ, ๐๐ช๐ฃ๐๐ ๐ฉ๐๐ง๐๐๐๐๐ง,
๐ฝ๐ช๐๐๐ฎ๐ ๐๐๐๐๐ก ๐ก๐ช๐๐จ ๐ข๐๐ข๐๐๐ฃ๐๐๐ง,
๐ฝ๐๐ฃ๐ฎ๐๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ ๐๐ง๐๐ข ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐ง๐จ๐๐ ๐จ๐๐ง."
Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh putus asa dengan kondisi yang kita alami saat ini. Kita harus sadar bahwa Islam memiliki sejarah keemasan, dan kita wajib mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari era yang gemilang itu. Kita harus paham bahwa kita memiliki agama yang kebenarannya terjamin oleh Tuhan. Kita harus pahami bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Islam bersifat Universal, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, relevan untuk segala zaman, serta berkaitan dengan semua sisi kehidupan.
Seperti yang sering kita dengar bahwa sifat sejarah itu berulang, maka kita harus yakin bahwa peradaban Islam akan kembali bangkit menguasai dunia. Nabi ๐จ๐๐๐ก๐ก๐๐ก๐ก๐๐๐ช ‘๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฌ๐ ๐จ๐๐ก๐ก๐๐ข pun pernah menjanjikan, bahwa kelak di akhir zaman umat Islam akan kembali memimpin peradaban, di atas "๐ข๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฃ๐ช๐๐ช๐ฌ๐ฌ๐๐".
Berkaitan dengan hal ini, Syed Naquib Al-Attas dalam Prakatanya
kembali bersyair,
"๐๐๐๐๐ฉ ๐จ๐๐๐๐ง๐๐, ๐ข๐๐ฃ๐ช๐ง๐ช๐ฉ ๐ค๐ง๐๐ฃ๐,
๐๐๐๐ง๐๐ฉ ๐๐๐ฃ๐ฉ๐๐จ ๐๐๐ง๐ข๐๐๐ฃ ๐ฌ๐๐ฎ๐๐ฃ๐,
๐พ๐๐ง๐๐ฉ๐ ๐ก๐๐ข๐ฅ๐๐ช ๐๐๐๐ช๐ง๐๐ ๐๐๐ก๐๐ฃ๐,
๐๐๐๐๐ก๐ ๐ฉ๐๐ข๐๐ฉ ๐จ๐๐๐๐ง๐ ๐๐๐ช๐ก๐๐ฃ๐.
๐
๐๐ ๐ ๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐ฃ ๐๐ช๐จ๐ฉ๐๐๐๐ก ๐๐๐ฃ๐ฉ๐๐ฃ๐,
๐๐๐ก๐๐ง๐๐ฃ ๐๐จ๐ก๐๐ข ๐ฅ๐ช๐ก๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ฉ๐๐ฃ๐;
๐๐๐ ๐ค๐ฃ๐๐ฃ ๐ก๐๐ข๐ ๐๐ฃ๐๐๐ ๐๐๐ข๐๐ก๐๐ฃ๐,
๐ฟ๐ ๐ก๐๐ฎ๐๐ง ๐๐ช๐ฃ๐๐ ๐จ๐๐ข๐ช๐ ๐ฉ๐๐ง๐๐๐ฃ๐ฉ๐๐ฃ๐."
Ada hal yang harus kita ingat, sesungguhnya perjuangan untuk mewujudkan kembali kebangkitan Islam tidaklah instan, ia akan memakan waktu yang sangat panjang, maka dari itu kita tidak boleh terburu-terburu, dan harus mempersiapkan kebangkitan itu dengan maksimal.
Lalu muncul pertanyaan, apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan kebangkitan Islam di masa depan?
Pertama, wajib bagi kita memahami Islam secara utuh. Kita harus pelajari agama kita ini dengan serius dan sungguh-sungguh. Kita harus memahami bahwa hakikat kemajuan Islam bukan sekedar tentang megahnya bangunan dan canggihnya teknologi. Akan tetapi kemajuan yang sesungguhnya adalah apabila masyarakatnya bertaqwa, beradab, dan berilmu.
Selanjutnya, kita wajib mengambil peran untuk kebangkitan Islam di masa depan. Kita mulai dengan mengidentifikasi diri kita sebagai seorang Muslim ini. Sesungguhnya dalam diri kita ini terdapat berbagai atribusi. Misalnya kita adalah seorang Muslim yang juga seorang pemuda, ayah, pelajar, guru, pedagang, direktur perusahaan, dokter, atau lainnya. Tugas kita adalah menyelaraskan identitas kita sebagai Muslim dengan atribut-atribut dalam diri, kemudian kita berperan di setiap atribusi tersebut untuk kebangkitan Islam.
Terakhir sebagai penutup, penting kita ketahui bersama. Ada tiga syarat menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas bila kita ingin membangun kembali Peradaban Islam yang hebat, pertama; keberanian jiwa, kedua; keyakinan, dan ketiga; kemampuan akal (berilmu). ๐ผ๐ก๐ก๐๐๐ช ๐’๐ก๐๐ข.
Terimakasih banyak kepada para pembaca yang budiman. Semoga tulisan ini bermanfaat. Kritik dan masukannya sangat kami butuhkan.
Suka dengan tulisan ini? Jangan biarkan kebaikan berhenti di tanganmu. Ayo sebarkan seluas - luasnya kepada orang - orang yang kamu cintai!

Posting Komentar
Posting Komentar